Sabtu, 18 Oktober 2025
Danau Toba, Sumatera Utara
Gadis kecil usia lima tahunan dengan rambut terurai itu berlari ke arahku. Matanya berbinar, sembari merentangkan tangannya dari jauh, seolah bersiap memelukku. Namun, keraguan seketika menghentikan langkah-langkah kecilnya. Aku terpana, lalu buru-buru merentangkan tangan, lebar-lebar. Gadis itu melanjutkan berlari ke arahku. Menggenggam erat kedua tanganku.
Beberapa teman sebayanya, perempuan dan laki-laki, lantas turut berlari menyambut dan bergabung. Kami berbaur, suasana hangat. Di siang yang hangat, di atas jalan beton di desa Turpuk Limbong, Kecamatan Samosir. Getaran energi hangat, cukup untuk menyuntikkan secuil semangat baru kepadaku, setelah menempuh separuh perjalanan panjang yang melelahkan.

Horas!
Trail of The Kings, terdengar keren, menarik dan menggoda, lelarian ngetrail di Danau Toba. Kalaulah ada embel-embel “by UTMB” (Ultra-Trail du Mont-Blanc, ajang kasta tertingginya para pelari trail dunia), anggap saja itu pemanisnya. Bukan dalam rangka mengumpulkan “stones”, untuk bisa qualified ikut ajang bergengsi itu. Dengan pilihan jarak ultranya yang 100K dan 60K, pilihan mantapku adalah 60K, dengan “bonus” elevasi gain (mendaki) lebih dari 3.000 meter. Lebih masuk akal dan manusiawi, buatku. Dengan persiapan dan latihan, tentunya. Harusnya.

Nyatanya, jauh dari cukup dan sempurna perjalanan persiapan latihannya.
Minggu, 5 Oktober 2025
Galloway Forrest Park, Scotland
Pukul 5:30 pagi, waktu setempat, alarm-ku berbunyi. Aku meraih HP, memandang layarnya.
My Location: 9°
Feels Like: 0°
Nyaliku menciut untuk keluar, berlari. Akhirnya hanya memilih berpindah dari “rumah utama”, tempat kami sekeluarga menginap, ke belakang, ke sebuah bangunan kecil bertuliskan Summer Hoose. Ya, “hoose” dalam bahasa Scots, yang artinya “house”. Sebuah rumah cabin, atau tepatnya ruangan, beralas dan berdinding kayu. Terdapat sebuah tempat tidur rendah, dapur minimalis, dan meja makan berkursi empat. Perapian di sudut ruangan, dengan dua kursi malas menghadap ke pintu kaca, taman belakang. Aku memutar piringan hitam. Rebah di kursi malas. “If”-nya “Bread” berayun perlahan, merdu, indah.
If a man could be two places at one time
I’d be with you
Tomorrow and today
Beside you all the way
If the world should stop revolving
Spinning slowly down to die
I’d spend the end with you
And when the world was through
Then one by one the stars would all go out
Then you and I would simply fly away

Penginapan ini berada di Maybole-Straiton, Ayrshire, sebuah desa kecil, terpelosok, sekitar 3 jam perjalanan mobil dari Edinburgh. Desa sunyi yang hanya memiliki satu tempat makan malam, “Black Bull”, yang sekaligus menjadi tempat berkumpul dan nge-beer warganya, yang ketika kami masuk tadi malam, semua pengunjungnya tiba-tiba terdiam, freezed, memandang kami, “para foreigners”, persis seperti adegan film di Netflix. Dan sebuah tempat makan lainnya di seberang “Black Bull”, yang hanya melayani breakfast dan lunch, “The Buck Tea Room”.

Setelah nyaris sebulan tanpa berlari “serius”, di sela-sela perjalanan “liburan”, hanya kisaran 5K di Vienna, di Amsterdam, di Edinburgh (adalah kegemaranku berlari-lari cantik di kota-kota “asing” yang dikunjungi), ternyata di forest park yang semula aku kira bisa untuk “latihan ngetrail” pun gagal. Hanya bisa “fun trail” siang harinya, saat cuaca sudah tidak membekukan. Itu pun tidak berlari, hanya berjalan kaki menyusuri jalur 5K-nya. Jalan setapak rata bebatuan, sungai jernih mengalir deras, pohon-pohon yang daunnya mulai menguning dan memerah bersiap menyambut musim dingin. Melahap keindahan alam, asupan nikmat jiwa, namun tidak banyak membantu meningkatkan stamina tubuh dan persiapan “race” nantinya. Dan itu adalah harga yang harus dibayar, paling tidak saat di Sentul minggu depannya.
Minggu, 12 Oktober 2025
Sentul, Jawa Barat
“Latihan pertama dan terakhir”, kata Anne, yang -bersama KakDaisy dan Next Level Adventures- si empunya acara charity fun trail 13K, dalam rangka penggalangan donasi event Jelajah Timur, akhir Oktober. Lelarian dengan elevasi gain 1.400-an meter, naik turun perbukitan di Sentul ini akhirnya menjadi “bekal” utamaku untuk Toba.
Baru setengah perjalanan, sekitar kilometer 7, aku berhenti melangkah, berusaha menahan erangan sakit. Otot kedua pahaku menarik kencang, kram. Ingin duduk di tanah, hanya saja single-track tidak menyisakan ruang untuk itu, sementara beberapa peserta lain tidak jauh di belakang, terus bergerak maju. Jadilah berdiri, mematung, sambil -pura-pura- menikmati pemandangan, membiarkan peserta lain melewatiku. Bagusnya tidak ada yang bertanya, jadi tidak perlu berbohong.
Dua kilometer ke depan adalah berjalan perlahan, mendaki, menurun, sembari “bersahabat” dengan rasa sakit, agar tidak bertambah parah. Sudah sangat bersyukur kalau masih mampu melangkah. Beruntung, lambat laun mulai mereda, namun tidak mampu perkasa. Hanya cukup untuk bisa menyelesaikan “fun-trail” itu, 6 jam 15 menit, di bawah COT (cut off time) 7 jam.
Sejujurnya, rasa sakit dan kram yang aku alami, justru aku syukuri. Otot-otot kakiku sebulan terakhir, atau bahkan sejak bulan Juli, setelah menyelesaikan Ring of Lawu, tidak lagi pernah berlari lebih dari 10K. Setidaknya aku berpikir dan membesarkan hati, event Sentul ini -pun dengan drama kram- menjadi persiapan terbaikku, “peak-training”-ku. Membangunkan kembali “muscle-memory”-ku. Kalaupun beneran ada yang namanya itu.
Trail of The Kings di depan mata. Tidak bisa berharap banyak, hanya berharap mampu start, menjalani rute, menyelesaikan lomba, finish-strong tanpa penyok-penyok amat, dan tidak mengalami horror yang terjadi di Sentul, kram.
Aku terpeleset, terjatuh duduk, badanku meluncur cepat ke bawah ke sisi kanan. Tanganku meraih ilalang dan dahan-dahan rendah, menyelamatkanku untuk tidak meluncur lebih dalam. Tubuh penuh dengan lumpur tanah, yang hitam dan basah. Aku merasakan otot kedua betisku menarik, mengeras. Kram! Kejadian seminggu lalu di Sentul langsung menghantui.
Dua pelari perempuan di belakangku tidak mungkin membantu. Tampaknya merekapun terjatuh-jatuh. Aku tidak mampu bangun di tanah yang miring dan licin itu, dengan otot betis tertarik, takut semakin parah. Hanya sanggup duduk sambil menggeser tubuh, menyeretnya ke bidang yang tidak terlalu curam. Mengistirahatkan sejenak kaki, betis, supaya bisa melangkah lagi. Dan ketika mencoba melangkah, aku kembali terjatuh. Sama seperti sebelumnya. Terduduk, tertahan ilalang dan dahan, menggeser dan menyeret tubuh di atas tanah. Menggoyang-goyangkan kaki, betis, agar tidak kram beneran. Turunan curam, lebih dari enam puluh derajat, tanah lunak hitam licin sehabis gerimis memaksaku akhirnya menuruninya dengan posisi duduk, dengan pantat. Sambil berharap, setelahnya masih mampu berdiri, menyangga tubuh, melangkah, dan melanjutkan “race”.


Bukit kedua ini, area air terjun Hadabuan Naisogop, dengan puncak di ketinggian sekitar 1.600 mdpl, sama seperti ketinggian puncak ketiga (total 3 puncak yang harus didaki), sebenarnya lebih rendah dibanding gunung pertama yang sudah ditempuh di awal lomba, Dolok Pusuk Buhit, 1.972 mdpl, yang konon merupakan titik awal peradaban Batak dan tempat kelahiran Si Raja Batak. Tetapi tanjakan bukit kedua ini lebih terjal, dan terutama turunannya yang bahkan lebih terjal lagi, memaksaku berjibaku menuntaskannya. Ketika tiba di kaki bukit, sebuah sungai kecil mengalir jernih. Saatnya bersih-bersih, paling tidak, agar lebih segar dan pede, tidak tampak terlalu kumal dan cemong, saat melanjutkan perjalanan, yang masih menyisakan setengah, yang masih sangat jauh.


Bagaimanapun, pemandangan indah dari atas gunung dan bukit itu, sepanjang pendakian, adalah bonus luar biasa. Memandang lepas ke bawah, sudut-sudut Danau Toba dan Pulau Samosir. Figur putih bersih nun jauh di sana, berdiri megah Patung Yesus di Bukit Sibea-bea, patung Yesus tertinggi di dunia. Lekuk-lekuk landscape eksotis, bentang sawah dan ladang, serta pemukiman penduduk di lembah yang dikelilingi perbukitan. Lalu ada gadis kecil kita dan genggaman eratnya, beserta kehangatan teman-temannya di awal cerita tadi. Serta warga lainnya yang supportif denganteriakan “Sepirit!”, atau warga lainnya yang selalu ingin tau “Abang dari mana asalnya?”, dan warga lainnya yang pengin tau banget “Capek gak?!” Untuk yang terakhir ini, awalnya masih bisa dijawab “Capek itu apah?!” tetapi lama kelamaan jawabannya sudah berubah, “Ya capeklah!” Bah!

Bukan kesal sebenarnya, tapi memang capek. Maka ketika mencapai puncak bukit ketiga, di bawah langit senja menggantung, dikelilingi ilalang tinggi liar, di pelukan angin dingin yang bertiup kencang, di antara pita-pita merah petunjuk arah yang berkibar-kibar, di titik nadir lelah, aku berteriak lepas. Liar dan keras. Berulang. Lega. Membayangkan bagian tersulit telah berlalu. Saatnya menuruni bukit terakhir, sebelum gelap, menyisir bibir lerengnya yang tipis, jurang free-fall di sisi kanan. Panorama Toba dari ketinggian lambat laun menghilang, perlahan berganti pancaran lampu. Malam tiba.
Melintasi Jembatan Tano Ponggol yang menghubungkan Parapat, daratan Sumatera dengan Pulau Samosir. Menuju Waterfront Pangururan, tempat start dan finish, yang ramai saat masyarakat berakhir pekan, bermalam Minggu. Setelah start pukul 6.00 pagi tadi, aku bersuka cita, belum sampai 20 jam COT (cut off time), belum berganti hari, belum pukul 11 malam, aku mencapai garis finish. Ultra-Trail-Man!
Aku sempat berpikir, ini adalah ultra trail pertamaku, virgin, di Toba, Trail of The Kings. Selama ini aku hanya sesekali berlari trail, dan itu tidak berjarak ultra. Lebih sering berlari ultra di road. Tetapi, aku ingat, bahwa tahun 2014, merupakan ultra trail pertamaku. The North Face 50K di Singapura. Dan di catatanku, itu justru menandai jarak ultra pertamaku, “pembaptisan” sebagai seorang pelari ultra. Sebelas tahun yang lalu…

Sabtu, 18 Oktober 2025
Danau Toba, Sumatera Utara
NH